Contoh Sertifikat Laik Fungsi

Di internet ada banyak sekali contoh sertifikat laik fungsi yang bisa Anda temukan. Masing-masing SLF dibuat oleh perusahaan maupun perorangan. Apa yang membuat SLF sangat istimewa hingga semua pemilik properti memutuskan untuk mengurusnya? Dan akan melakukan perpanjangan di saat butuh memperpanjang SLF.

 

Manfaat memiliki contoh sertifikat laik fungsi

 

  1. Membantu meningkatkan investasi daerah

 

Selain memberikan keuntungan bagi pemilik gedung bangunan, pengurusan SLF juga membantu menambah investasi daerah. Semakin banyak gedung bangunan yang dibuat tandanya semakin banyak pula sektor Industrial yang berkembang. Misalnya sektor pariwisata dengan pembangunan gedung perhotelan baru.

 

Sektor pariwisata termasuk salah satu sektor terpenting untuk meningkatkan nilai investasi daerah. Selain itu, pengurusan SLF juga membantu Anda memenuhi persyaratan pembuatan ILO, WOT maupun akta pemisah.

 

  1. Menambah Nilai Jual Gedung

 

Bagi seorang pebisnis, mendapatkan keuntungan merupakan hal yang mutlak. Kepemilikan SLF bisa dimanfaatkan untuk memperoleh pendapatan dari nilai jual gedung. Bayangkan, berapa besar kerugian yang Anda dapatkan jika tidak memiliki SLF padahal harga gedung sedang tinggi?

 

Agar kondisi tersebut tidak terjadi, buat SLF sejak awal gedung selesai dikonstruksi. Jangan menundanya karena alasan apa pun, apalagi kini Anda bisa menggunakan konsultan SLF online untuk membantu pengajuan SLF.

 

  1. Mendapatkan pengakuan hukum oleh pemerintah

 

Contoh sertifikat laik fungsi rumah sakit, gedung pemerintahan dan perusahaan swasta merupakan contoh SLF yang banyak diajukan ke pemerintah. Tujuan utamanya agar gedung bangunan menerima pengakuan hukum oleh pemerintah sehingga bisa mendirikan dan memanfaatkan bangunan secara legal.

 

Tanpa keberadaan rumah sakit dan fasilitas umum lainnya, masyarakat tidak bisa hidup dengan nyaman di suatu negara. Di mana Anda berobat jika bukan di rumah sakit? Dan di mana Anda belanja jika bukan di toko, pusat perbelanjaan, supermarket atau minimarket?

 

  1. Meningkatkan Pendapatan Daerah

 

Selain baik untuk investasi, membuat SLF gedung bangunan juga membantu menambah pendapatan daerah dari sektor pajak. PBB dan biaya lainnya akan dipungut dari pemanfaatan gedung bangunan.

 

Pajak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat tanpa terkecuali terutama bagi mereka yang membutuhkannya. Saat tidak melunasi PBB, Anda akan mendapatkan sanksi.

 

 

Dampak tidak memiliki SLF

 

  1. Kehilangan kesempatan menerbitkan AJB

 

Tidak membuat SLF juga menghilangkan kesempatan Anda untuk menerbitkan AJB. Jika Anda sangat membutuhkan AJB untuk kegiatan tertentu, segera urus SLF dengan bantuan tenaga terpercaya.

 

Di Indonesia, jumlah konsultan SLF sangat berkualitas. Mereka menawarkan berbagai paket pengurusan SLF yang dapat Anda pilih sesuai kebutuhan. Bandingkan harga jasa SLF A dan jasa SLF lainnya, pilih penyedia jasa yang mampu menawarkan harga profesional.

 

  1. Tidak diperkenankan memungut biaya perawatan gedung

 

Contoh sertifikat laik fungsi apartemen atau rumah susun memiliki fungsi selain melegalkan pendirian gedung bangunan. Tanpa SLF, Anda selaku pemilik gedung tidak bisa memungut biaya perawatan gedung.

 

Padahal biaya perawatan gedung dibutuhkan guna mempertahankan keamanan, kenyamanan dan kesehatan penghuni gedung. Sebaik apa pun konstruksi awal, gedung bisa rusak akibat penggunaan yang buruk. Itulah mengapa dibutuhkannya perawatan gedung berkala.

 

  1. Sanksi administrasi

 

Mendapatkan peringatan tertulis merupakan sanksi administrasi pertama yang akan diberikan pada Anda selaku pemilik gedung bangunan. Selanjutnya, Anda akan mendapatkan surat pernyataan pembatasan kegiatan pembangunan bahkan pembongkaran paksa.

 

Jika tidak ingin menerima sanksi administrasi seperti yang disebutkan di atas. Segera buat SLF dengan atau tanpa bantuan konsultan SLF populer. Daripada kerugiannya, Anda akan menerima lebih banyak manfaat saat memiliki contoh sertifikat laik fungsi untuk masing-masing gedung bangunan.

 

 

Kelengkapan Dari Persyaratan SLF Yang Perlu Di Siapkan

Sertifikasi Laik Fungsi (SLF) adalah sebuah proses penting dalam pengelolaan bangunan yang wajib dilakukan oleh pemilik atau pengelola bangunan. Untuk memastikan kelancaran proses pengurusan SLF, diperlukan persiapan yang matang dengan memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan.

 

  1. Surat Pernyataan dan Permohonan SLF: Langkah awal dalam pengurusan SLF adalah menyusun surat pernyataan yang mencerminkan kelaikan fungsional bangunan. Selanjutnya, ajukan permohonan SLF secara resmi.
  2. Identifikasi Pemohon: Bagi Warga Negara Indonesia (WNI), sertakan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP), sementara bagi Warga Negara Asing (WNA), pastikan Anda melampirkan kartu izin tinggal terbatas.
  3. Dokumen Badan Hukum: Jika bangunan tersebut dimiliki oleh badan hukum, persiapkan dokumen tambahan seperti Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), akta pendirian badan hukum, dan surat keputusan pendirian.
  4. Bukti Kepemilikan Bangunan: Sertifikasi memerlukan bukti kepemilikan bangunan secara sah, seperti Sertifikat Hak Milik (SHM) atau Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB).
  5. Dokumen Izin: Sertifikasi memerlukan dokumen izin bangunan, termasuk Izin Mendirikan Bangunan (IMB), peta ketetapan rencana kota (KRK), Surat Keterangan Izin Mendirikan Bangunan (SK IMB), dan Rencana Tata Letak Bangunan (RTLB). Semua ini harus disertakan dalam pengajuan.
  6. Berita Acara Pembangunan: Anda juga perlu memiliki berita acara yang mencatat bahwa pembangunan telah selesai dilakukan dengan sukses.
  7. Gambar As-Built Drawing: Dokumen ini berisi gambar-gambar bangunan sebagaimana adanya setelah selesai pembangunan. Pastikan Anda memiliki file dan cetakan gambar ini.
  8. Uji Coba Instalasi: Dokumen ini mencatat uji coba instalasi bangunan dan harus tercantum dalam berita acara pembangunan.
  9. Dokumentasi Visual: Terakhir, Anda perlu menyertakan foto bangunan beserta fasilitasnya untuk mendukung pengajuan Anda.

 

 

Pedoman Dasar Hukum Dari Sertifikasi Laik Fungsi

 

Sertifikat Laik Fungsi (SLF) adalah dokumen resmi yang menunjukkan bahwa sebuah bangunan atau gedung telah memenuhi syarat untuk digunakan sesuai dengan fungsi yang ditentukan. Pentingnya pengurusan SLF diatur oleh berbagai perundang-undangan di Indonesia, dengan dasar hukum utama sebagai berikut:

 

  1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja : Undang-Undang ini mengatur berbagai aspek terkait dengan pembangunan dan pengembangan infrastruktur di Indonesia. Salah satu poin penting dalam UU ini adalah penekanan pada pentingnya perizinan dan sertifikasi yang efisien dan transparan. Bagian dari upaya ini adalah untuk memastikan bahwa setiap bangunan yang dibangun atau direnovasi harus memenuhi standar keamanan dan fungsionalitas. Dalam konteks SLF, undang-undang ini mengatur kewajiban pemilik bangunan untuk mengurus sertifikat ini sebagai bukti kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung : Peraturan Pemerintah ini merupakan panduan praktis yang menguraikan langkah-langkah yang harus diikuti oleh pemilik bangunan untuk mendapatkan SLF. Dokumen ini mencakup persyaratan teknis terkait dengan desain, konstruksi, dan pemeliharaan bangunan. Peraturan ini juga mencantumkan tata cara perizinan dan pengawasan yang harus diikuti untuk memastikan keamanan dan fungsionalitas bangunan.

 

Pentingnya pengurusan SLF tidak hanya sebatas kewajiban hukum, tetapi juga memiliki dampak positif pada keselamatan masyarakat dan lingkungan. SLF memastikan bahwa bangunan telah diperiksa secara menyeluruh dan memenuhi standar kelayakan, sehingga dapat digunakan tanpa membahayakan penghuninya. Dengan mengikuti ketentuan hukum yang ada, pemilik bangunan juga dapat menghindari sanksi hukum yang mungkin diterapkan jika SLF tidak diperoleh.

 

Pengurusan SLF melibatkan proses inspeksi, verifikasi, dan penilaian oleh otoritas yang berwenang. Setelah bangunan dinyatakan memenuhi semua persyaratan, sertifikat tersebut diterbitkan, dan bangunan dapat digunakan sesuai dengan tujuannya.

 

 

Menguraikan Proses Klasifikasi SLF untuk Properti Komersial

 

Sertifikat Laik Fungsi (SLF) merupakan dokumen yang diperlukan untuk memastikan bahwa suatu bangunan telah memenuhi persyaratan dan dapat digunakan sesuai dengan fungsi yang ditentukan. Klasifikasi SLF didasarkan pada jenis dan luas bangunan, dengan tujuan untuk memberikan informasi yang jelas tentang keamanan dan kelayakan penggunaan bangunan tersebut.

 

Kelas A diberikan kepada bangunan non-rumah tinggal yang memiliki lebih dari 8 lantai. Sertifikat ini menyatakan bahwa bangunan tersebut telah memenuhi standar keamanan yang tinggi, menjamin keselamatan bagi penghuninya. Proses pemeriksaan mencakup aspek struktural dan teknis untuk memastikan bahwa bangunan mampu menopang beban yang diperlukan.

 

Kelas B diperuntukkan bagi bangunan non-rumah tinggal dengan kurang dari 8 lantai. Meskipun tidak sebesar bangunan kelas A, keamanan dan kelayakan tetap menjadi fokus utama dalam publikasi SLF. Sertifikat ini memberikan keyakinan bahwa bangunan tersebut layak untuk digunakan sesuai dengan tujuan awalnya.

 

Kelas C diberikan untuk bangunan rumah tinggal dengan luas lebih atau sama dengan 100m2. Penerbitan SLF pada kelas ini mencakup penilaian terhadap fasilitas dan kelayakan rumah, termasuk sistem keamanan dan kesehatan. Hal ini memberikan jaminan bahwa rumah tersebut memenuhi standar kenyamanan penghuninya.

 

Kelas D diperuntukkan bagi bangunan rumah tinggal dengan luas kurang dari 100m2. Meskipun skala bangunan lebih kecil, pengajuan dan kelayakan tetap menjadi fokus pemeriksaan SLF. Sertifikat ini memberikan keyakinan bahwa rumah tinggal tersebut memenuhi standar kelayakan untuk digunakan.

 

Pentingnya SLF terletak pada upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, memastikan bahwa setiap bangunan yang digunakan sesuai dengan standar keamanan. Pemeriksaan rutin dan penerbitan SLF menjadi langkah krusial dalam menjaga integritas struktural dan fungsional bangunan.

 

Oleh karena itu, Sertifikat Laik Fungsi bukan sekedar formalitas, namun juga merupakan bentuk komitmen terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Penerapan kelasifikasi SLF yang jelas dan ketat menjadi landasan dalam mengawasi dan menilai kesesuaian bangunan terhadap standar yang telah ditetapkan.

 

 

Pemahaman Mendalam tentang Proses Perolehan SLF untuk Properti Anda

 

Pentingnya Sertifikat Laik Fungsi (SLF) tidak terbatas pada gedung perumahan, melainkan juga melibatkan gedung-gedung dengan fungsi khusus untuk kepentingan umum. Terdapat dua kategori utama bangunan yang dapat memiliki SLF, yaitu gedung pada umumnya dan gedung tertentu.

 

Gedung pada umumnya, termasuk perumahan tunggal atau deret, dapat memperoleh SLF dengan mengajukan permohonan kepada pihak yang berwenang. Prosedur ini berlaku baik untuk gedung sederhana maupun yang lebih kompleks. Penting bagi pemilik bangunan untuk aktif berpartisipasi dalam mendapatkan SLF demi menjaga keamanan dan menghentikan fungsi bangunan.

 

Di sisi lain, gedung tertentu yang memiliki fungsi khusus atau untuk kepentingan umum memiliki kriteria khusus untuk memperoleh SLF. Pertama, gedung dengan ketinggian di atas 5 lantai menjadi kriteria utama. Kedua, bangunan dengan basement juga termasuk dalam kriteria penerima SLF. Ketiga, pemilik gedung dapat mengajukan permohonan SLF sesuai dengan kebutuhan atau kondisi tertentu yang memerlukan penilaian.

 

Proses perolehan SLF di gedung-gedung tertentu harus diawali dengan kesadaran pemilik bangunan akan berkewajiban untuk memastikan keamanan dan kelayakan fungsi bangunan. Dalam hal ini, penerapan SLF bukan hanya sebagai aturan, tetapi juga sebagai upaya pemilik bangunan dalam menjaga integritas dan keinginan bangunan mereka.

 

Penting untuk diingat bahwa setiap bangunan di atas 5 lantai atau dengan basement memiliki tanggung jawab ekstra dalam memastikan keselamatan dan kepatuhan terhadap standar yang berlaku. Penerapan SLF bukan hanya sebagai bentuk regulasi, namun juga sebagai wujud komitmen pemilik bangunan terhadap keselamatan dan tidak adanya fungsi bangunan mereka.

 

Transparansi dan keterbukaan dalam proses perolehan SLF sangat penting. Pemilik bangunan harus memahami bahwa SLF tidak hanya menguntungkan pihak yang berwenang, tetapi juga melindungi kepentingan mereka sendiri. Oleh karena itu, permohonan SLF sebaiknya tidak hanya dilakukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai bagian dari upaya pemilik bangunan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan berfungsi dengan baik.

 

 

Menggali Pentingnya Memahami Masa Berlaku Sertifikasi Laik Fungsi

 

Masa berlaku SLF adalah aspek penting dalam pengawasan keselamatan dan keamanan bangunan. Peraturan mengamanatkan bahwa SLF untuk bangunan non-rumah tinggal berlaku selama 5 tahun, sementara untuk bangunan rumah tinggal, masa berlakunya adalah 10 tahun.

 

Pentingnya memahami masa berlaku SLF tidak dapat dipandang enteng. SLF menjadi indikator utama bahwa sebuah bangunan telah memenuhi persyaratan teknis dan regulasi keamanan. Bagi bangunan non-rumah tinggal, perpanjangan SLF harus dipertimbangkan setiap lima tahun sekali.

 

Selain itu, bagi bangunan rumah tinggal, perpanjangan SLF juga menjadi perhatian utama. Dengan masa berlaku selama 10 tahun, pemilik rumah harus memastikan bahwa bangunannya terus memenuhi standar keselamatan yang relevan.

 

Namun, proses perpanjangan SLF tidaklah sederhana. Pemilik bangunan harus melalui serangkaian pemeriksaan dan penilaian ulang untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Ini termasuk memeriksa sistem struktural, kebakaran, dan fasilitas lainnya.

 

Dalam hal ini, keterlibatan pihak berwenang sangat penting. Mereka bertanggung jawab untuk menilai apakah sebuah bangunan layak secara teknis dan aman untuk ditempati. Kerjasama antara pemilik bangunan dan otoritas terkait diperlukan untuk memastikan kepatuhan dan keamanan yang berkelanjutan.

 

Selain itu, penting bagi pemilik bangunan untuk memahami implikasi hukum dari SLF yang kedaluwarsa. Kehadirannya menjadi bukti bahwa bangunan telah memenuhi standar yang ditetapkan. Oleh karena itu, keberadaannya yang kedaluwarsa dapat menimbulkan konsekuensi hukum yang serius.

 

Selama proses perpanjangan, pemilik bangunan juga dapat memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas bangunan secara keseluruhan. Ini bisa meliputi upgrade sistem keamanan, perbaikan struktural, atau peningkatan fasilitas lainnya sesuai dengan perkembangan teknologi dan regulasi terkini.

 

Dengan memahami pentingnya masa berlaku SLF dan menjalani proses perpanjangan dengan cermat, pemilik bangunan dapat memastikan bahwa properti mereka tetap aman, berkelanjutan, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Ini bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab moral untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan mereka sendiri serta orang lain yang menggunakan bangunan tersebut.

 

 

Risiko Habis Masa Berlaku SLF dan Cara Menghindarinya

 

Sertifikat Laik Fungsi (SLF) merupakan dokumen penting yang menunjukkan bahwa sebuah bangunan gedung memenuhi syarat untuk digunakan sesuai dengan fungsi dan tujuan aslinya. Namun, ketika masa berlaku SLF mendekati akhir, pemilik atau pengguna bangunan perlu memperhatikan prosedur perpanjangan yang diperlukan.

 

Proses perpanjangan SLF harus dimulai dengan mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah setempat. Penting untuk menyampaikan permohonan ini paling lambat 60 hari sebelum masa berlaku SLF berakhir. Hal ini memberikan cukup waktu bagi pihak berwenang untuk mengevaluasi ulang kelayakan dan keamanan bangunan.

 

Mengajukan permohonan perpanjangan SLF bukan hanya kewajiban, tetapi juga tanggung jawab moral pemilik atau pengguna bangunan. Ini mencerminkan komitmen mereka terhadap keamanan dan keberlanjutan struktural, serta memastikan bahwa gedung tersebut terus berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

 

Pemerintah daerah biasanya memiliki prosedur yang terstruktur untuk mengurus permohonan perpanjangan SLF. Dokumen yang diperlukan, seperti dokumen as-built terkini dan sertifikat keamanan struktural, harus disiapkan dengan cermat. Proses ini memerlukan kerjasama antara pemilik bangunan dan otoritas setempat guna memastikan kelengkapan dokumen dan pengajuan yang tepat waktu.

 

Keberhasilan permohonan perpanjangan SLF dapat bergantung pada kesesuaian bangunan dengan peraturan dan standar keamanan terbaru. Oleh karena itu, pemilik atau pengguna bangunan perlu memastikan bahwa semua pembaruan dan perbaikan telah dilakukan sesuai dengan pedoman yang berlaku.

 

Selain itu, pemilik atau pengguna bangunan juga dapat mengambil inisiatif dengan melakukan inspeksi mandiri secara berkala untuk memastikan bahwa gedung tetap mematuhi persyaratan keamanan. Tindakan preventif ini dapat membantu mencegah masalah dan memperkuat permohonan perpanjangan SLF.

 

Dalam proses perpanjangan SLF, transparansi dan komunikasi efektif antara pemilik atau pengguna bangunan dengan pihak berwenang sangat penting. Memberikan informasi yang akurat dan lengkap akan mempercepat proses evaluasi dan meminimalkan potensi hambatan. Dengan memahami dan mengikuti prosedur perpanjangan SLF secara tepat waktu, pemilik atau pengguna bangunan dapat menjaga keberlanjutan operasional gedung mereka.

 

 

Apakah SLF perlu diperpanjang?

 

Sertifikat Laik Fungsi (SLF) adalah suatu dokumen yang memberikan kepastian bahwa sebuah gedung memenuhi persyaratan dan standar untuk fungsi tertentu. Masa berlaku SLF tidak bersifat permanen, sehingga perpanjangan menjadi hal yang sangat penting. Oleh karena itu, pemilik gedung harus proaktif dalam mengajukan permohonan perpanjangan SLF sebelum masa berlaku habis.

Seiring berjalannya waktu, tuntutan keamanan dan kelayakan fungsi suatu gedung dapat berubah. Oleh karena itu, pemilik gedung perlu memastikan bahwa bangunan mereka tetap memenuhi standar yang berlaku. Proses perpanjangan SLF melibatkan laporan hasil Pengkajian Teknis Bangunan yang harus dilakukan oleh pengkaji teknis yang memiliki Izin Pelaku Teknis Bangunan (IPTB) di bidang Pengkaji Bangunan.

Penting untuk diingat bahwa perpanjangan SLF bukan hanya sekadar formalitas, tetapi merupakan suatu bentuk tanggung jawab dan komitmen terhadap keselamatan dan fungsionalitas gedung. Dalam mengajukan perpanjangan, pemilik gedung perlu menyusun laporan dengan seksama, mencakup semua aspek teknis dan persyaratan yang relevan.

Proses perpanjangan SLF juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi gedung. Pemilik dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan perbaikan atau peremajaan yang diperlukan guna memastikan bahwa gedung tetap memenuhi standar kualitas dan keamanan.

Penting untuk memahami bahwa SLF bukan hanya mengenai izin hukum semata, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab sosial pemilik gedung terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, pengajuan perpanjangan SLF seharusnya dianggap sebagai bagian integral dari upaya pemeliharaan dan peningkatan kualitas lingkungan bangunan.

Dengan mengutamakan proses perpanjangan SLF, pemilik gedung dapat memastikan bahwa propertinya tetap beroperasi secara optimal dan aman. Oleh karena itu, kolaborasi yang baik antara pemilik gedung, pengkaji teknis, dan otoritas terkait sangat diperlukan dalam menjaga keberlanjutan dan kelayakan fungsi gedung. Dengan demikian, perpanjangan SLF bukan hanya menjadi kewajiban hukum, tetapi juga merupakan langkah yang bijaksana untuk menjaga keberlanjutan dan keselamatan gedung.

 

 

Mengapa Fungsi Bangunan Gedung Menjadi Fokus Utama dalam Proses SLF?

 

Sertifikat Laik Fungsi (SLF) menjadi suatu aspek krusial dalam pengelolaan bangunan gedung, dan salah satu poin penting yang harus diperhatikan adalah fungsi dari bangunan tersebut. Fungsi bangunan gedung diatur oleh ketentuan pemenuhan standar teknis, yang melibatkan aspek tata bangunan, lingkungan, dan keandalan bangunan gedung, sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) PP 16/2021.

Dalam kaitannya, Pasal 4 ayat (2) dan (3) PP 16/2021 merinci fungsi bangunan gedung menjadi enam kategori utama:

Pertama, fungsi hunian yang mencakup perumahan dan tempat tinggal. Fokus pada kebutuhan hunian mencerminkan peran pentingnya dalam kehidupan masyarakat.

Kedua, fungsi keagamaan, menunjukkan bahwa bangunan tersebut diarahkan untuk kegiatan ibadah dan aktivitas keagamaan. Pentingnya tempat ibadah sebagai bagian dari fungsi bangunan ini menuntut perhatian khusus.

Ketiga, fungsi usaha, melibatkan bangunan yang digunakan untuk kegiatan bisnis atau komersial. Aspek ini menekankan peran ekonomi dan bisnis dalam keberlanjutan sebuah bangunan.

Keempat, fungsi sosial dan budaya, memperlihatkan bahwa bangunan tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan sosial dan budaya masyarakat. Ruang bagi pertemuan, pameran, dan kegiatan seni termasuk dalam kategori ini.

Kelima, fungsi khusus, merujuk pada bangunan dengan tujuan atau kegiatan tertentu yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori lain. Misalnya, laboratorium riset atau fasilitas olahraga khusus.

Terakhir, fungsi campuran, mencakup kombinasi dari dua atau lebih fungsi di atas. Bangunan dengan fungsi campuran menunjukkan fleksibilitas dan keberagaman penggunaan.

Sejalan dengan peraturan ini, memastikan bahwa bangunan memenuhi standar teknis adalah kunci utama dalam mendapatkan SLF. Proses ini tidak hanya melibatkan aspek fisik bangunan, tetapi juga memperhitungkan dampaknya pada lingkungan sekitar.

Penting untuk selalu memastikan bahwa ketentuan teknis dan standar kualitas terpenuhi untuk memastikan keamanan, keberlanjutan, dan kenyamanan bagi penghuninya. Dengan demikian, Sertifikat Laik Fungsi bukan hanya sebatas formalitas hukum, tetapi juga mencerminkan kualitas dan keberlanjutan fungsi bangunan gedung itu sendiri.

 

Info lebih lanjut silahkan hubungi kami di :

Baca Juga : Mengenal persyaratan penerbitan SLF

Email : info@konsultanku.com

CALL / WA : 0812-9288-9438 Catur Iswanto

Phone : 021-21799321